Namaku Riga, hanya anak biasa, yang duduk di kelas 3 SMA. Aku masih teringat akan kejadian hari itu. Ya, saat itu sehari sebelum aku dan keluargaku pergi jauh, karena liburan. Teman temanku mengajak aku untuk bermain pada siang hari, awalnya aku tidak keberatan karena hanya bermain pada siang hari. Kami bermain sambil berbincang bincang, kami tidak tahu kemana kita akan pergi, lalu temanku berkata "Oi, nanti beres kita main, ada yang mau ikut gw gak?" Ujar temanku, namanya Tonny, dia anak orang kaya yang agak sombong tetapi dia baik terhadap teman, apalagi perempuan, dia mesum, tapi mesum yang baik, tidak asal meremehkan dan melecehkan. Lalu, temanku menjawab "Kemana Ton? Dimas mulai bertanya, Dimas hanyalah anak biasa yang sering dijahili, Dia hanya anak biasa, seperti diriku.
"Kalo mau, dateng aja jam 7 malem ke rumah gw". Kami merasa tertarik untuk datang, karena penasaran, kami sengaja datang jam 7 malam ke rumah Tonny. kami menyahuti rumah Tonny yang besar "Tonny! Tonny!" semakin lama semakin keras suara kami, dan setelah itu, momen memalukan terjadi, mana mungkin suara kami terdengar, jarak rumah dan gerbang nya saja sudah 80 Meter dari posisi rumah besar nya. Kami pun ingat, terakhir kali kami kesini, kami membunyikan bel yang terpampang di dinding rumah nya. Setelah itu, aku menekan bel dan kemudian pembantu keluar dari rumah nya. Kejadian yang terjadi tadi membuatku malu sekaligus ingin tertawa, dalam hati aku berbicara "Aduh! Malu gw, kalo gak inget, gw bisa jadi bangke nungguin depan rumah si Tonny kayak pengemis", dan aku yakin, Dimas pun merasa sama. Pembantu Tonny sangatlah baik, ditambah, cantik pula, masih muda muda, biasa, orang kaya, dapetin apapun gampang. Setelah diantar pembantu, kami masuk keruangan kamar Tonny, "Kemana aju lu pada? Gw nungguin daritadi!" Tonny menyambut kami dengan biasa, aku dan Dimas terdiam, karena hal memalukan yang tadi. kami membuat alasan "Ahh~ Gw tadi disuruh nyokap dulu bentar", "Gw juga!" kami mengatakan hal itu, karena kami tidak ingin mengatakan kejadian sebenarnya yang memalukan. Tak lama kemudian, Pizza dan makanan mewah lain nya datang, "Ohh! Datang juga pesenan nya" Tonny tertawa dan mengambil pesanan miliknya yang diantarkan oleh nenek tua pembantunya juga, dan oh, wajahnya, meskipun tua, tetapi nenek nenek itu baik dan lembut, serta rendah hati, sementara kita berbincang. Tonny membuka pesanan nya, dan menawarkan kapada kami, kami yang sudah berteman sejak kelas 1 SMP, dan bertahan sampai sekarang, kelas 3 SMA. dan, aku baru teringat akan kedatangan kami kesini. aku spontan bertanya kepada Tonny. "Ton, kata lu, lu mau ngomongin tadi siang, nyuruh kita datang kesini", dan Tonny pun teringat akan mengatakan apa. "Gw, punya tantangan buat lu pada" sambil tersenyum seram. Dimas membalas perkataan nya "E-emangnya, a-ada apa?". Dimas merasakan hal yang akan terjadi adalah hal yang tidak bagus. Tonny berkata, "Yakin? lu mau ikut aturan main gw? Lu tau gw mau ngapain?" Akupun membalas tanpa keraguan. "Emangnya apa? kalo sekiranya bagus, gw ikut aja". Tonny tertawa terbahak bahak "Haahahhaha! jangan pada serius amet kali, gw cuma mau nangtangin kalian makan telor mentah sambil minum susu sapi!" Dimas pun heran "Ehh?" sambil tertawa kecil karena heran. Aku menerima tangtangan nya. "Siapa takut? Gw bakal jadi lawan lu, bawa sini!" Tonny begegas membawa bahan bahan nya. Aku bertanya pada Dimas, "Lu mau ikutan kagak?" Dia menjawab dengan ragu, "Mm, gw ikut aja dah". Setelah itu, Tonny datang dengan barang barang nya. Kami telah siap dan kami melakukan nya, Dimas adalah korban kejadian ini, dia muntah dan merasa enek. Aku dan Tonny tidak tepengaruh akan hal itu, setelah itu, Tonny mengatakan tujuan sebenarnya pada kami. "Oi, sebenernya......" Aku heran dan mencoba bertanya pada Tonny "Apa bro?". Tonny mengatakan dengan jujur "Tantangan sebenernya bukan ini, gw pengen ngajak lu pada buat kesekolah besok jam 9 malem, kumpul dirumah gw jam 7 kayak biasa, kalo bokap nyokap nanyain, kita bikin alesan kerja kelompok dadakan di rumah gw, ortu gw biasa pulang malem, kadang kagak pulang. Gimana? Punya nyali gak lu pada?' Tonny mengatakan nya tanpa beban, tanpa takut, dan tersenyum seram. Aku pada awal nya akan menolak ajakan Tonny pada kali ini. Tetapi, Dimas menyatakan perang "Siapa takut?! Gw terima tangtangan lu!" setelah mendengar itu, aku mengurungkan niatku untuk menolak tangtangan Tonny. "Lu gimana? Rig? Ikut, atau diem disini?", Karena tidak ada pilihan lain yang tersedia. Terpaksa. Aku mengikuti permainan Tonny. Keputusan sudah dibuat, tidak ada cara lain, selain maju kedepan dan menghadapi rintangan. Kami pulang ke rumah masing masing dan bersekolah pada keesokan hari nya. Aku merasa tidak sabar dan terasa sangat tertantang akan hal ini. Malam pun tiba, aku mengerti, kenapa Tonny mengajak kami untuk tangtangan ini. Karena, besok adalah keberangkatanku untuk pergi keluar kota dengan keluargaku untuk menjenguk anggota keluargaku yang sakit. Aku bergegas pergi kerumah Dimas untuk berangkat bersama ke rumah Dimas. Kami pergi memakai motor, sesampainya kami di depan rumah Tonny, kami sekarang tidak akan mengulangi hal yang memalukan lagi. Dimas memencet bel nya, pembantu pun datang dan membukakan gerbang untuk kami. Kami bergegas masuk dan datang keruangan Tonny. "Oh, dateng juga lu pada" Tonny mengatakan itu sambil membawa cairan merah kehitam hitaman dan agak kental dalam gelas. Aku bertanya pada Tonny, "Ton, itu apa? Da-darah?", Tonny mulai memberikan senyum seram nya lagi "Iya, mau coba minum?", aku dan Dimas mulai merasa aneh dan merinding, Dimas berkata "Se-serius lu Ton? Itu darah apa? kenapa lu bawa yang kayak gituan sih?" dengan rada gemetar Dimas melancarkan kata kata nya dengan kengerian. Tonny mendekat pada kami dengan wajah menatap ke bawah dan berjalan perlahan ke arah kami. Kami merinding, kami mulai ketakutan, dan mengeluarkan keringat dingin, bulu kuduk kami merinding, dan seakan akan waktu berhenti sebentar, detak jantung kami meningkat drastis dengan perasaan ketakutan, saat dia sekitar 5 inchi di depan kami, dia mengatakan sesuatu dengan halus "Inii....... cuma selai Strawberry ditambah air dikit kok" Tonny terbahak bahak tertawa karena melihat dua orang teman nya ketakutan oleh sikapnya. Kami mulai berbincang bincang sambil menunggu waktu menunjukan jam 9 malam. Dan, waktu telah menunjukan jam 9 malam. kami bergegas akan berangkat, tetapi. Tonny pergi ke dapur dan ke gudangnya sebentar, sementara aku mengeluarkan motor tonny dari garasi dan memanaskan nya. Tonny pun datang membawa tas. Kami bertiga mulai berangkat ke sekolah. Dikarenakan penjaga sekolah kami selalu ada untuk mengawasi, kami menyelinap dan memarkirkan motor di pinggir jalan, karena ramai dan banyak kenalan disana, kami tidak khawatir akan kehilangan motor kami. Setelah kami masuk lewat belakang, kami mulai berkeliling sekolah. Kami sampai di ruangan kelas 3-A, yaitu kelas yang ditempati olehku, dan paling dekat dengan lorong sekolah. Tonny mulai mengeluarkan sesuatu di dalam tas nya. yang dikeluarkan nya adalah... Sebotol cairan merah kehitaman. Aku bertanya "Ngapain bawa selai lagi?" Tonny tersenyum, "Ini bukan selai, ini..... Darah kelinci sama darah kucing yang asli" dia mulai menakuti kami, lalu. Dia menyuruh kami menjulurkan tangan dan mengolesi nya dengan cairan tadi. karena kami tidak percaya bahwa yang Tonny bawa itu adalah Darah, maka kami rasa tidak apa apa. Dia menyuruh kami untuk berpencar, aku pergi ke arah Selatan, Dimas pergi ke arah Timur, dan Tonny ke arah Barat. Kami berpencar, dan, setelah itu, aku merasa ada yang ganjil, saat aku melihat nenek nenek dan seorang gadis muda berpakaian lusuh dan kotor. Aku tidak takut pada waktu itu, setelah aku dekat dengan mereka, aku mulai berpikir, "Aneh sekali, ada keperluan apa nenek nenek dan seorang gadis muda malam malam diam di sekolah kami tanpa melakukan apapun dan hanya terdiam. Jangan jangan........" aku menoleh kembali, dan.... Mereka tidak ada dalam pandanganku. Aku mulai cemas, panik, takut, semua rasa mulai beraduk rasa dalam pikiranku. Bulu kuduk ku mulai merindig, dan saat itu, baru pertama kalinya aku merasa sangat ketakutan. aku berlari, dan setelah aku belok di tikungan, aku berlari dan melihat ke belakangku, tidak ada apa apa, aku memalingkan wajahku kedepan dan... Seorang nenek dengan wajah yang rusak sambil membawa pisau penuh darah tertawa cekikikan di depanku sambil mencoba mendekatiku, aku kaget ditambah takut, aku mencoba berbalik arah dan, seketika, aku terdiam terpaku, karena, di depanku, ada seorang gadis imut dan cantik menggunakan gaun putih, aku... aku... bingung, aku ingin mengatakan bahwa ada nenek nenek di belakangku yang mencoba membunuhku, beberapa detik kemudian, fisiknya berubah drastis, menjadi banyak luka sayatan, gaun nya berubah menjadi penuh darah, dan muka cantik dan imut nya, berubah, menjadi muka penuh darah dan belatung dan busuk, baunya sampai tercium ke dalam hidungku. Aku mulai kaget, mulai takut kembali, dan aku berlari menghiraukan wanita bergaun itu. aku berlari ke arah Timur, saat itu, saat aku berlari, aku melihat Dimas sepintas, dia terpaku, dia melihat wanita berterbangan di atasnya, ya, Kuntilanak, dia pasti kaget, dan aku tau, bagaimana perasaan nya, aku berhenti dan berteriak, "Dimas! Dimas! Sini!", tetapi, seolah, bahwa suaraku tak pernah terdengar, saat aku mencoba berlari kearah nya, aku merasa, bahwa ketika aku berlari, jaraknya tidak berubah sama sekali, akupun mulai kesal, dan berlari ke arah lain, saat itu, aku bertemu dengan Tonny, aku menyeret Tonny untuk ikut bersamaku, dan, ketika aku bawa ke lokasi Dimas, Dimas sudah tidak ada, Tonny pun berkata "Ada yang aneh ya?", Aku diam, tak bisa berkata apa apa. dan aku pun mulai berteriak pada Tonny "TON! GW TADI LIAT DIMAS DISINI DIKELILINGIN SAMA KUNTILANAK, GW YAKIN TADI DIA ADA DISINI KETAKUTAN TON!", Tonny pun menghela nafas dan mulai berkata dengan santai "Yaudah, gw cari sebelah sana, lu cari sebelah sana, kali aja ada", aku mulai bergegas tanpa ada ketakutan sedikitpun. Aku berlari, dan aku menemukan Dimas, aku mendekatinya, dan menepuk punggungnya, aku kelelahan karena berlari, dan, saat Dimas membalikan tubuhnya. badan nya sudah tidak utuh, muka yang rusak, tangan yang sudah busuk dan jari yang telah patah dan terpotong. Aku mulai berteriak, dan berlari, siapapun akan berlari meskipun lelah jika melihat hal seperti itu. Aku berlari tanpa arah dan tujuan, setelah itu, aku baru sadar aku ada di dekat gudang, lokasi gudang sangatlah jauh dari awal kami mulai. Aku beristirahat sejenak, lalu Tonny pun datang dari arah kejauhan mendekati diriku, dia berjalan cepat mendekati arahku, dan lalu, dia berkata "Ketemu belum?" dia datang sambil membawa air minum, aku mencoba menenangkan pikiranku sejenak, dan berbicara dengan tenang "Ton, gw bener takut kali ini, gw liat Dimas jadi gitu, tubuhnya, jadi ancur, kenapa sih?!" Tonny hanya berkata satu kata padaku "Ilusi" dia hanya mengatakan itu padaku, dan aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya. Tonny lalu pergi dan mencari Dimas kembali, aku mulai berdiri dan berjalan jalan, aku melihat sesuatu yang aneh di gudang, karena letak gudang ini sangatlah jauh, jadi, tidak banyak orang yang datang kesini. Aku menemukan karung putih dan kotor di dekat pohon besar. Entah kenapa, ada sesutu yang bergema di otakku mengatakan "Kubur karung itu, Kubur karung itu, Kubur karung itu", aku menuruti permintaan otakku, tetapi seebelumnya, aku akan melihat apa yang ada di dalam karung itu. Dan ternyata... SEBUAH KERANGKA TULANG DENGAN DARAH DAN DAGING YANG BAU BUSUK. Aku mual dan muntah, tanpa pikir panjang, ketika hendak aku akan megubur tulang itu, datanglah seorang nenek menyeramkan tadi dan seorang gadis setan yang mencoba membunhku. Aku berlari lagi sambil membawa tulang belulang tadi, dalam sekejap nenek dan gadis itu sudah ada di depan mataku, aku kaget dan masih berlari, setelah aku berlari secepat mungkin, aku menemukan 2 makam aneh di bagian luar sekolahku, dan aku baru sadar, bahwa sekolah ini sangatlah luas, tetapi ada bagian yang tidak terjangkau oleh orang manapun , dan mungnkin baru hanya aku yang baru menemukannya. Entah mengapa, aku merasa, aku harus mengubur tulang itu disini. aku menggali dengan barang yang ada di sekitarku, aku menggunakan kayu, besi bekas, dan lain lain. Seusai aku menggali dan menguburkan tulang itu. Aku berdoa untuk orang yang bersemayam disini, setelah itu, aku melihat nenek nenek dan gadis yang sangat luar biasa cantiknya, dan ketika itu, mereka berdua mengatakn sesuatu. Aku pun kembali tempat awal kami bertemu. Dimas, dan Tonny sudah ada, Dimas masih ketakutan dengan apa yang terjadi malam ini. Kami bergegas pulang, pertama kami mengantarkan Tonny kerumahnya, lalu mengantarkan Dimas. Aku sampai dirumah, aku merenungkan apa yang terjadi malam ini, sebelum aku pergi keluar kota, terjadi kejadian seperti ini, ini salah satu kenangan yang mengerikan yang terjadi didalam hidupku. Aku tertidur lelap, dan keesokan harinya, aku berangkat pagi pagi dengan keluargu tanpa mengucapkan sepatah kata pada dua sahabat terbaikku. Sudah seminggu aku diluar kota, aku sudah merasa rindu akan sekolah dan sahabatku. Ketika aku pulang, dan sampai drumah, aku mengirim pesan kepada 2 Sahabatku, Dimas membalas, sedangakan Tonny tidak. keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah menggunakan motorku, aku pergi berangkat bersama dengan Dimas, dan berbincang bincang dengannya. Setelah sampai di sekolah kami belajar seperti biasa, aku, Dimas, dan Tonny sekelas, tetapi heran, kenapa Tonny tidak masuk kelas, aku bertanya pada Dimas "Mas, Tonny kenpada gak masuk sekolah?", lalu Dimas menjawab "Kagak tau, udah seminggu dia kagak sekolah", ketika aku bertanya pada temanku yang lain, kalian tau apa jawaban nya? jawaban mereka "Siapa Tonny? Gak ada yang namanya Tonny dikelas ini". Aku menemukan keganjilan lain. Sepulang sekolah, aku dan adimas mencoba mengunjungi rumah Tonny, Dan... Rumah Tonny yang dulunya adalah rumah yang mewah, sekarang hanya menjadi rumah tua, tak terurus dan kumuh, hanya rumah tua dan jelek saja yang ada di pandangan kami, kami bingung dan mulai bertanya tanya. Apa ini benar rumah Tonny? Setelah aku pikir pikir kembali, Hantu Gadis muda yang memakai gaun itu mirip pembantu Tonny, dan nenek nenek seram itu, adalah, mbok yang selalu mengantarkan makanan kepada kami saat ada di rumah Tonny. Jadi... Apakah selama ini kami berteman dengan......
Blog Ping Tool
0 comments: